Tentang Pasraman

Tentang Pasraman

Pasraman bukan hal baru bagi warga Bali yang memang lekat dengan beragam kultur. Guna melengkapi yang sudah ada, di Bali akan dibangun Pasraman Satyam Eva Jayate yang terbilang cukup unik dan berbeda dibandingkan dengan pasraman lainnya.

Jika Pasraman biasanya identik  dengan seorang Brahmana atau  Bhikuni, lain halnya dengan Pasraman Satyam Eva Jayate. Pasraman yang akan berdiri di atas tanah seluas 14 are di Penatih, Denpasar, akan menjadi sebuah Pasraman yang mengedepankan konsep kekeluargaan. Demikian diungkapkan Ketua Umum Forum Alumni Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) , Ketut Udi Prayudi.


Menurutnya, dengan adanya Pasraman Satyam Eva Jayate, dapat lebih meningkatkan kedisiplinan serta memperkuat ajaran inti agama Hindu. “Memang di Bali banyak sekali ada pasraman yang serupa. Tapi, pasraman ini saya katakan berbeda, karena khusus untuk mahasiswa Hindu di seluruh Indonesia. Selain itu, konsep yang diajarkan dalam pasraman ini juga berbeda dengan yang lainnya,” ungkapnya.


Pasraman yang akan menempati tanah milik Pemerintah Provinsi Bali ini, akan diisi oleh mahasiswa Hindu dari seluruh Indonesia. “Jadi, akan ada 40 orang yang akan dibina.  Soal persembahyangan, mereka diperbolehkan melaksanakan sesuai cara dan tradisi mereka sendiri. Jadi, tidak dipatok, harus seperti di Bali,” ujar Udi Prayudi. Kader KMHDI Bali ini mengungkapkan, Hindu merupakan agama universal yang dapat membaur dengan berbagai macam budaya. “Istilah Desa Kala Patra itu, ya ini implementasinya. Agama Hindu itu lues, inti ajarannya kan dharma, seperti apapun caranya kita tetap berdoa pada Yang Kuasa,” ujarnya.


Ditegaskannya,  sasaran utama dalam Pasraman ini adalah mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. “Sasaran utamanya memang bagi mereka dari mahasiswa Hindu yang kurang mampu dan juga bagi mahasiswa Hindu yang berasal dari luar daerah," terangnya. Diakuinya, mereka yang datang dari luar Bali banyak yang tak memiliki sanak keluarga, dan juga tidak  memiliki biaya mencukupi untuk tempat tinggal. Akhirnya mereka tinggal sementara di kampus atau ruang kemahasiswaan.

"Nah, dengan adanya Pasraman ini nantinya, kami berharap hal itu tidak akan terjadi lagi,” paparnya.
Udi Prayudi memaparkan, dibangunnya Pasraman Satyam Eva Jayate di tengah kondisi muda mudi yang terlalu bebas, tentunya memiliki banyak fungsi. Secara universal, pasraman bisa digunakan sebagai forum untuk berbagi, baik itu dalam bentuk ilmu pengetahuan maupun dalam bentuk pengalaman. “Semua orang boleh datang untuk berbagi di sana. Siapa saja, tak hanya mahasiswa Hindu, mereka yang dari agama lain pun dipersilakan untuk datang ngobrol atau sekadar berbagi ilmu,” ujarnya.


Udi Prayudi menuturkan, secara khusus Pasraman Satyam Eva Jayate dibangun untuk memberikan wadah kepada pemuda pemudi tentang kedisiplinan, tentang budaya, dan implementasi ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari hari. “Ibaratnya lewat Pasraman ini kami memberikan mereka bekal. Nanti, ketika telah terjun di masyarakat setidaknya mereka tahu cara bikin banten, apa saja makna dari banten tersebut, ngayah itu seperti apa, dan pastinya mereka harus belajar kedisiplinan dan bertanggung jawab," urainya.


Lantas, apa saja persyaratan untuk dapat ikut dalam Pasraman Satyam Eva Jayate? Dikatakannya,  tak ada syarat khusus untuk dapat menjadi bagian dalam pasraman. " Tak ada syarat khusus, cuman harus mahasiswa yang berkeyakinan Hindu. Itu saja,” ujarnya.


Selain harus beragama Hindu, lanjutnya, bagi mereka yang berasal dari keluarga mampu diwajibkan untuk ikut iuran membayar listrik, air, dan lainnya.


Soal perawatan, lanjutnya,  Pasraman dibangun atas dasar kebersamaan, lewat iuaran dan bantuan berbagai pihak.  Begitu juga dalam pelaksanaannya nanti, mereka yang mampu, diharapkan ikut membantu membayar iuran listrik dan air yang mereka gunakan. "Makan pun begitu, iuaran dari mereka sendiri dan tentunya donation dari kami dan semua pihak yang bersedia,” ujarnya.


Udi Prayudi juga memaparkan, program pasraman yang akan diberikan relatif beragam. Seperti pelatihan Yoga, membuat bebantenan, makidung, ngigel, dan membaca kitab suci. “Sama seperti asram lainnya, tentu ada jadwal kegiatan keseharian yang diberikan di luar jam kuliah mereka. Seperti pagi harus bangun, melaksanakan tugas piket, lalu melaksanakan Yoga bersama, dan kegiatan keagamaan lainnya," imbuhnya.


Dikatakannya, sudah banyak yang menawarkan untuk mengisi program kegiatan di Pasraman secara cuma – cuma. “Banyak praktisi yang datang menawarkan diri untuk mengisi, dan tentunya secara cuma – cuma. Di awal tentu kita membutuhkan bantuan itu, namun seiring berjalannya waktu, mereka yang senior diharapkan mampu untuk mengajari adik – adiknya,” ujarnya.


Soal siapa yang dilibatkan, Udi Prayudi mengatakan, tentu saja keluarga besar KMHDI seluruh Indonesia dapat terlibat dalam kepengurusan dan pengelolaannya.


"Batas maksimal seseorang dapat belajar di Pasraman Satyam Eva Jayate adalah dua tahun.  Selain untuk memberikan kesempatan pada pemuda pemudi lainnya untuk belajar di Pasraman, waktu dua tahun dirasa cukup bagi seseorang untuk belajar semua materi yang diberikan dalam Pasraman Satyam Eva Jayate," ujarnya.


Menurut  Ketua Panitia Pembangunan Pasraman Satyam Eva Jayate, I Putu Gede Chandra Kirawan, S.Ag , M.Fil. Hum, Pasraman Satyam Eva Jayate yang diperkirakan menelan biaya  Rp 5.56 Miliar, diprediksi akan rampung  tahun 2019.


“Saat ini masih proses pengerjaan pengurukan. Karena sebelumnya tanah yang digunakan adalah tanah sawah, jadi harus dipadatkan dahulu. Ini masih proses pemadatan dan kami perkirakan akan rampung pada  akhir tahun 2019,” ungkapnya.


Chandra menambahkan, Pasraman nantinya  akan memiliki dua gedung terpisah yang diperuntukkan satu untuk  wanita dan satu gedung untuk pria. “ Dalam satu gedung akan ada 10 kamar tidur, masing – masing diisi empat tempat tidur bersusun. Dan, itu berlaku untuk gedung laki – laki dan perempuan. Jadi, total kamarnya ada 20 buah kamar tidur,”ungkap Chandra.


Selain dua gedung, Pasraman juga akan dilengkapi sebuah wantilan, perpustakaan, jineng serta dapur dan toilet. “Khusus untuk toilet masing – masing gedung memiliki toilet sendiri. Namun, untuk fasilitas umum, seperti dapur dan perpustakaan itu satu untuk semua.  Hal itu diterapkan  untuk membangun rasa kebersamaan,” ungkapnya.


Di sisi lain, Gusti Agung Bagus Mantra yang juga kerap melaksanakan aksi sosial kemanusiaan saat bencana di Jawa dan Bali bersama kelompok Nyanyian Dharma,mengungkapkan ia bersama kawan – kawan artis  mendukung acara penggalangan dana sepenuhnya yang dilaksanakan 
malam ini, Kamis (24/5) di Pandawa Stage Inna Grand Bali Beach. Dalam ajang bertajuk Charity Dinner ini, belasan artis dilibatkan Gus Mantra, di antaranya Indra Lesmana dan Trie Utami, Gus Teja, Ocha, Gede Kurniawan, Gus Wicaksana, Bobi Dinar, Jun Bintang, Lanang Botax.  Dalam acara yang dipandu Agung Wiradana dan Nana ini, tampil juga grup Crazy Horse, Joni Agung & Double T, dan Small Axe.

Bahkan, ada acara lelang khusus lukisan yang dilakukan pelukis Putu Bonus yang bakal langsung live melukis dan pelawak Sengap. “Untuk tujuan yang baik, kami akan mendukung acara penggalangan dana ini semaksimal yang kami bisa. Tentunya didukung oleh teman teman artis lokal maupun artis nasional seperti Tri Utami dan  Indra Lesmana,” ujar owner Pregina Art & Showbiz ini.

Pria yang akarab disapa Gus Mantra ini, mengatakan, ide pembangunan Pasraman ini patut diapresiasi. Apalagi di tengah era globalisasi, tentu akan sangat bermanfaat. “ Kami sangat mendukung. Ide ini kan untuk kebaikan, kita di Bali juga belum punya Pasraman yang dibuat khusus untuk mengajarkan apa saja inti sari Hindu itu. Lewat ini kita juga bisa melihat ternyata Hindu itu tak hanya tentang Hindu Bali, kita itu beragam,” ujar penggemar motor tua yang  sukses menggeber Bali Blues Festival di Peninsula, Nusa Dua, bersama ITDC dan Kementerian Pariwisata, pekan lalu.


Ditegaskan Ketua Yayasan Karang Lestari Pemuteran ini ,  artis yang terlibat dalam penggalangan dana pembangunan Pasraman Hindu Satyam Eva Jayate, terdorong oleh niat tulus untuk berbuat baik dan menyumbangkan sesuatu untuk umat.

“Yang kami bisa kan bernyanyi, berkesenian lewat lukisan ada pula yang lewat karya seni lain. Jadi, itu yang kami sumbangkan. Mungkin kedepannya kami akan membuat album kompilasi yang hasilnya akan disumbangkan ke Pasraman tersebut,” ujar Gus Mantra yang bersama Nyanyian Dharma juga terlibat penggalangan dana untuk pembangunan sejumlah pura di NTB dan NTT. Kedepannya, ia berharap dengan direalisasikannya pembangunan Pasraman Satyam Eva Jayate, dapat membantu umat yang kurang mampu serta memberikan ilmu dan pendidikan tentang agama Hindu kepada masyarakat.

Copyright © 2018 Pasraman Satyam Eva Jayate. All Right Reserved.